Merumuskan Sosialis Humanis Berbasis Pengalaman (Cangkir 6)

Ahad, 8 Juli 2012, Kak Taqwim, kalau boleh saya sebut aktivis bersedia berbagi dengan komunitas Mammiritable. Kala itu ia dengan legowo mengutarakan prinsip-prinsip yang menurutnya penting untuk menjamin kelangsungan hidup bersama. Dalam hidup memang sesuatu yang tidak diinginkan kadang terjadi, misalnya muncul konflik kepentingan antar berbagai pihak, atau ada pihak tertentu yang mendominasi, mengaku paling benar dan menginjak-injak hak orang lain.

Malam itu, kami seperti mendapat wejangan welas asih dari seseorang yang matang pengalaman. Memang, kami juga kehausan teori, tapi tidak sekadar itu, kami lebih-lebih haus akan pengalaman. Sebab pengalaman kata orang-orang adalah guru terbaik, kak takwim dengan kemampuan refleksinya, berhasil menarik beberapa benang merah dari hasil akumulasi pengalaman yang ia peroleh, baik pengalaman itu berhasil atau pun tidak.

Bapak yang telah berumur diatas 40 tahun ini dengan percaya diri mengembangkan konsep sosialis humanis, metode hubungan sosial yang ia petik bukan dari bejibun teori, tapi murni dari tindak tanduk ia sendiri. Menurutnya, kita harus jujur dan terbuka untuk diam dan memperhatikan. Kebutuhan orang lain adalah keinginan kita, sehingga tercipta hubungan timbal balik yang harmonis. Belum tentu kita lebih lebih baik dari tukang becak hanya lantaran kita dengan jumawa memakai mobil. Tapi, realitas yang terbangun bahwa terdapat perbedaan kelas di masyarakat. Dan barangkali diantara kita juga ingin menapak kelas di atas, padahal realitas kelas belum tentu ada, ia hanya direprodusir oleh kita sendiri, oleh zaman dan orang-orang yang berkepentingan. “Ada ego yang terbangun diantara kelas masyarakat. Kita perlu membedakan apa yang disebut kebutuhan dan keinginan itu”.

Sesorang dari kami bertanya, bagaimana mengetahui kebutuhan masyarakat itu? Ditengah penyeragaman keinginan dan mungkin kebutuhan oleh para ilmuan atau lembaga riset, juga oleh pelaku media. Takwim menjawabnya lugas, “Saya sederhana, saya ingin mayat saya setelah dikafani berangkat dari tangan ke tangan ke liang lahat”. Ada siklus individual yang harus dilewati untuk masuk ke masyarakat. Nah, capaian siklus itu akan menghasilkan ide atau gagasan untuk melakukan perubahan atau menstimulan masyarakat untuk berubah. misalnya, ketika kita membayar pajak, jangan hanya melihatnya memakai kaca mata agama, tapi juga konteks masyarakat. Dengan membayar pajak, kita turut menyumbangkan hidup kita.

“imam gazali, kau tidak berjumpa dengan ku kecuali ada ikatan dengan saya”. Kita perlu menjalin hubungan emosional dengan siapa saja.  Teman adalah kebutuhan dan kepentingan kita. Tapi, proses menjalin hubungan yang harus ditumbuhkan adalah sikap postif. Kalau pun terjadi yang tidak-tidak atau perselingkuhan dari teman, ini merupakan hal wajar dalam permainan kepentingan. Meski begitu, kita harus selalu menjaga keterjalinan hubungan itu. Sebab, dengan banyaknya relasi, kita dapat dengan mudah melakukan spekulasi sosial untuk mendahului rekayasa sosial, karena sebuah rekayasa memerlukan tumbukan yang besar, tentu efeknya besar juga.

Menurutnya, sepekulasi bisa dilakukan dalam lingkup kecil dulu, seperti dalam lingkup keluarga. pernah ia berkumpul dengan keluarganya dalam rangka acara aqiqah, tiba-tiba pengemis lewat dan saat itu Taqwim memang berniat untuk mengajak pengemis juga untuk makan di rumah. Maka masuklah pengemis di kediaman itu. “saya hanya mau menunjukkan ke keluarga, bahwa kita dan pengemis sama-sama manusia”.

Bapak yang juga sahabat budayawan Ishak Ngeljaratan ini bercerita pristiwa subtil yang pernah ia alami. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dari Namlea (Pulau Buru) ke Ambon menumpangi kapal veri. Di tengah perjalanan, ombak menggulung-gulung, dan tiba-tiba mesin kapal berhenti. Para penumpang sontak ketakutan. Tapi, takwim tenang-tenang saja. Ia hanya melipat tangan sembari mengisap rokok. penumpang lain bertanya padanya.

“Bapak tidak takut seperti orang kebanyakan?”

“Saya belum melihat malaikat pencabut nyawa di sekitar sini,” celotehnya. Lalu Taqwim melihat seorang ibu menggendong anaknya. “saya menganggap anak itulah malaikat, tapi bukan malaikat pencabut nyawa, tapi penolong”. Akhirnya mereka tiba dengan selamat di Pelabuhan Ambon. Biasanya, Namlea – Ambon menempuh 4 jam perjalanan, saat itu ditempuh selama 12 jam.

“Yang kita butuhkan adalah menyederhanakan pikiran,” katanya lagi. Dalam masyarakat terdapat kebutuhan kita. Bagaimana kita membangun sosial kultur masyarakat itu dengan mereduksinya ke dalam diri kita. Tentu nantinya akan kembali ke masyarakat juga. Ia paling tahu, bahwa tuhan itu tidak buta.

Seperti yang ia buktikan waktu sebagai tim perdamaian di wilayah Mambi, Sulawesi Barat. Menurutnya, penyebab konfik atar beberapa wilayah itu disebabkan bukan faktor agama atau suku, tapi faktor kekuasaan. Belum lagi, pemenuhan hak-hak dasar di desa-desa tidak terlihat. Di desa belum terlihat sekolah dan rumah sakit, sementara pemerintah hanya ongkang-ongkang kaki. Ketika masyarakat menebang hujan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, saya pikir sah-saha saja.

Pernah juga Taqwim memobilisasi para eks narapidana, yang tergabung dalam SEINI (Serikat Eks Narapidana Indonesia). Waktu itu eks narapidana ramai – ramai mendiskusikan mereka akan bekerja sebagai apa? Banyak opsi yang keluar saat itu, seperti jadi satpam, tukang parkir, kolektur, dan ada yang nyeletuk menjadi tukang mandikan mayat. Taqwim sepakat dengan ide itu, ia pun menginisiasi para anggota SEINI untuk mengikuti pelatihan memandikan mayat. Targetnya eks narapidana ini punya keterampilan khusus yang nanti akan berguna bagi masyarakat. Yang membedakan hewan dan manusia, yaitu manusia selalu memiliki inisiatif.

Konsep sosial pada intinya yaitu bagaimana membuat individu-individu tidak terjebak pada pencapaian kepentingan sendiri, tapi juga memikirkan yang lain. Tentang konsep-konsep dunia, seperti kapitalisme, menurutnya belum tentu jahat, sebab banyak pengusaha yang juga murah hati. Mereka rela mengeluarkan rezekinya untuk kebaikan. “bisa jadi kapitalis lebih humanis,” ujarnya. Dalam menjalin hubungan itu, yang penting tidak saling merecoki dan mengintervensi.

Pengelolaan manusia dalam konteks sosial itu bersifat melingkar, bukan vertikal. Jika vertikal akan banyak hal yang akan dipotong, vertikal dalam hal ini mungkin semacam revolusi. Kita kiranya mampu menghubungkan yang minus ke yang plus, sebab ketika plus ketemu plus, akan saling meniadakan. “sama halnya kalau kita berdebat dengan orang yang berwawasan sempit, temanya akan berputar di situ-situ saja”.

Mungkin, malam itu kita lebih berbicara tentang ide-ide. Ide atau energi yang kita berikan untuk komunitas dan komunitas menyumbangkan energi ke individu. Nah, bagaimana mengukur sikap humanisme itu? satu-satunya jalan yaitu melalui praktek. “siapa yang paling bagus idenya, dia lah yang kita ikuti. Setiap komunitas pun pasti selalu mempunyai seorang pemimpin”.

Pun. Kondisi sosial saat ini merupakan hasil rampokan, maka kita harus merampok juga.

 Terimakasih yang telah hadir

Jikun, dilla, Hadi, idam, mifdah, dani, irwansyah, Fian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s