Mengenal Budaya Melalui Etnografi Urban (Cangkir 5)

Mamiri cangkir lima kali ini menghantar kita untuk mengenal mengenai penyebab munculnya elemen –elemen budaya baru, yang tidak lepas dari kultur studi yang melakukan pendekatan dengan memadukan antara etnografi dan masyarakat urban sebagai sebuah pendekatan dalam mengkaji fenomena sosial serta kondisi masyarakat, terutama masyarakat urban. pembicara kali ini adalah Arham, seorang mahasiswa Pascasarjana Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, dan juga alumni sastra Universitas Negeri Makassar.
.
Kajian untuk masyarakat urban melalui pendekatan etnografi di Eropa dan Amerika sendiri telah lama dilakukan. Di mana pengkajian mengenai etnografi di Amerika Serikat pada tahun 1960–an. Pada saat itu pendekatan etnografi lebih mengarah pada pengkajian pembentukan sejumlah kawasan di Amerika Serikat yang terpecah dalam dua kawasan masyarakat, yakni kawasan kulit putih yang memang dikhususkan untuk masyarakat kulit putih Amerika dan kawasan kulit hitam yang dikhususkan untuk masyarakat Negro Amerika. Perpecahan ini tidak lepas karena Amerika pada saat itu mengalami situasi sosial yang cukup rasis.

Dalam perkembangan selanjutnya etnografi secara baca kemudian ditinggalkan. Terutama pendekatan etnografi yang dikembangkan oleh Margaret Mill dalam mengkaji masyarakat Samoang. Mill dituding terlalu positivis dengan pendekatan yang tidak terlalu komperehensif dalam menjawab kompleksitas permasalahan masyarakat urban kekinian yang lebih mengarah kepada moderenisasi dan pluralitas. Beberapa ahli etnografi baru ini menganggap pendekatan etnografi yang dilakukan Margaret Mill saat itu cukup tepat dengan ciri masyarakat yang cenderung homogen dan tradisional dibandingkan dengan konteks masyarakat urban saat ini.

Sementara itu studi etnografi telah melakukan pendekatan baru James P. Spradley, yaitu pandangan yang tidak menganggap etnografi hanya berupa pengamatan terhadap masyarakat yang terisolasi (etnografi baru) saja, melainkan menjadikan etnografi sebagai alat dasar untuk memahami masyarakat dalam lingkup kecil (sekeliling kita) maupun masyarakat multikultural di seluruh dunia. Spardley memasukkan unsur pengalaman individu masyarakat serta kaidah konseptual, kode, dan aturan kognitif “pribumi” dengan pendekatan yang terus menerus dan bertahap dan tidak serta merta menghubungkan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari pendidikan sang antropolog. Sehingga etnografi klasik yang mengkaji masyarakat dalam hanya dalam lingkup kecil dan tidak sistematis kini telah ditinggalkan karena tidak mampu menjawab kondisi permasalah masyarakat yang semakin kompleks, plural dan moderen. Sasaran etnografi-baru yang diajukan oleh James P. Spradley sebagai dalih ialah membuat pemaparan etnografis menjadi lebih akurat dan lebih replikabel daripada yang dianggap telah berlaku pada masa sebelumya.

Jadi seorang ahli etnografi mirip dengan seorang dokter yang sedang mencoba untuk mengerti mengapa seorang pasien menunjukkan simtom-simtom tertentu karena seorang etnografi dapat terjebak pada bias budaya dan kesalahan dalam memahami situasi sosial budaya apa yang tengah terjadi di masyarakat.

Munculnya kekeliruan selama ini dalam membaca masyarakat urban dengan pendekatan etnografi lama tidak terlepas dari kontribusi cultur studies sendiri yang melihat bahwa untuk setiap setiap regresi budaya terdapat resistensi dalam bentuk gerakan alternatif sebagai sebuah perlawanan. Kehadiran seperti rege, hiphop dianggap sebagai sebuah bentuk resistensi dari sebuah regresi terhadap budaya modern yang kapitalis, namun pernyataan ini dianggap terlalu prematur untuk menarik sebuah benang merah dan menyimpulkan fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat urban tanpa menggali lebih jauh kondisi individu dari masyarakat urban itu sendiri.

Contoh kecil penelitian mengenai Angkringan di Jogja. Apabila dilakukan analisa melalui pendekatan cultur studies untuk menilai tentang munculnya pedagang angkringan di Jogja, kemunculan angkringan dianggap sebagai sebuah representasi gerakan alternative, bentuk dari resistensi terhadap munculnya sejumlah makanan siap saji, namun kesimpulan terhadap kehadiran angkringan sebagai resistensi dan perlawanan terhadap kapitelisme global menjadi salah kaprah karena ternyata orang yang menjual dan berbelanja di angkringan bisa saja tidak memiliki kesadaran untuk membentuk gerakan alternative sebagai perlawanan terhadap kehadiran restoran siap saji yang hadir di Jogja. Malah angkringan dianggap hanya tempat untuk kepentingan berbelanja dan berjualan.

Sedangkan terkait kemunculan kaum urban ke perkotaan sendiri di Eropa terutama Inggris cukup berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Dalam sejarah Inggris pemunculan kaum-kaum urban buruh di Inggris yang dikaji dalam buku “The Use of Literasi” menggambarkan bahwa kedatangan orang-orang di pedesaan menuju perkotaan karena adanya imaji yang diharapkan di perkotaan untuk memperbaiki kualitas hidupnya dengan menjadi buruh pabrik, sehingga kaum urban (buruh) yang berkumpul diperkotaan ini membentuk kelas marginal. Kedatangan kaum urban dari pedesaan ke kota di Inggris ini juga tidak terlepas dari penemuan mesin-mesin dan teknologi baru (Revolusi Industri ) pada abad ke- 18 yang menyokong suburnya pertumbuhan industri serta hilangnya sejumlah tanah petani miskin dan meluasnya tanah kaum bangsawan akibat dari Revolusi Agraria.

Sementara di Indonesia munculnya masyarakat urban di perkotaan pada tahun 1990-an justru tidak terlepas dari munculnya Revolusi Hijau yang dihadirkan dan digerakkan oleh Rezim Orde baru. Sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, namun di sisi lain menyebabkan masyarakat tani miskin kehilangan tanah karena ketidakmampuan mereka bersaing dengan petani besar. Alhasil sejumlah petani miskin yang tersingkir terpaksa berbondong-bondong menuju kota untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan layak. Kehadiran masyarakat urban saat itu justru dijadikan peluang yang menguntungkan Rezim Orde Baru dalam menyediakan tenaga buruh murah dalam menyokong industri di perkotaan dan menarik investor dari luar negeri.

Kemunculan kaum urban di daerah-daerah perkotaan sendiri tidak serta merta secara menyeluruh melakukan pembauran dan beradaptasi dengan kondisi budaya perkotaan yang lebih modern, individualis dan materialistic, akan tetapi justru beberapa diantaranya melakukan resistensi budaya terhadap kondisi budaya perkotaan dalam bentuk subkultur dengan membentuk gerakan alternative seperti hippies, punk, dll. Namun karena semakin popularnya gerakan kebudayaan kaum marginal malah situasi ini menjadi mainan kaum kapitalis, contoh pada tari tango dan hip hop yang berasal dari kaum urban di Argentina ketika sampai di Indonesia justru digemari kalangan menengah atas di Indonesia.

Resistensi inilah inilah yang kemudian menjadi elemen –elemen budaya baru tersendiri di mana perkerutan dunia akibat akses teknologi dan informasi yang semakin mudah memungkinkan terbentuknya sebuah budaya baru.

Untuk konteks di Indonesia pergeseran budaya masih bisa diretas kecuali di Papua yang masih cenderung belum bergeser menuju kota kosmopolitan karena rendahnya pendidikan dan akses teknologi. Sedangkan di Makassar Kemacetan yang terjadi di Makassar bisa saja memunculkan sebuah budaya baru di masyarakat yang mengalaminya dari situasi social yang terjadi.

Sementara mengenai konteks penggerusan budaya etnik, pergeseran bisa diamati di Kajang Dalam, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, di mana masyarakat Kajang Dalam menjalani kehidupan memiliki prinsip kamase-kamasea dan selaras dengan alam namun penjagaan adat ini mulai melunak dan bergeser sedikit demi sedikit melalui transformasi budaya. Pola perubahan di Kajang sendiri menarik di mana prinsip hidup yang kuat tidak mampu melawan dan membendung imajie dan kenyamanan modernisasi walaupun masih ada warga beberapa yang melakukan perlawanan. Padahal masyarakat Kajang memiliki identitas tersendiri melalui prinsip hidup dan budaya mereka.

Yang menarik pula perbedaan etnik kadang menjadi sebab terjadinya konflik yang terjadi di Makassar terutama pertikaian antara organisasi daerah mahasiswa, padahal etnik merupakan kontruksi sosial yang secara prinsipil tidak berbeda dengan yang lain hanya merupakan bentukan dari identitas dalam menyatakan kedirian dan kelompok, berbeda dengan ras yang memang merupakan bentukan biologis. Namun bila ditilik konflik etnik yang terjadi di Kota Makassar khususnya Indonesia tidak terlepas pula dari sejarah kolonial masa lalu yang digunakan oleh kaum penjajah nusantara yang seharusnya sudah lama diberangus.

Iqbal Jafar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s