Merumuskan Sosialis Humanis Berbasis Pengalaman (Cangkir 6)

Ahad, 8 Juli 2012, Kak Taqwim, kalau boleh saya sebut aktivis bersedia berbagi dengan komunitas Mammiritable. Kala itu ia dengan legowo mengutarakan prinsip-prinsip yang menurutnya penting untuk menjamin kelangsungan hidup bersama. Dalam hidup memang sesuatu yang tidak diinginkan kadang terjadi, misalnya muncul konflik kepentingan antar berbagai pihak, atau ada pihak tertentu yang mendominasi, mengaku paling benar dan menginjak-injak hak orang lain.

Malam itu, kami seperti mendapat wejangan welas asih dari seseorang yang matang pengalaman. Memang, kami juga kehausan teori, tapi tidak sekadar itu, kami lebih-lebih haus akan pengalaman. Sebab pengalaman kata orang-orang adalah guru terbaik, kak takwim dengan kemampuan refleksinya, berhasil menarik beberapa benang merah dari hasil akumulasi pengalaman yang ia peroleh, baik pengalaman itu berhasil atau pun tidak.

Bapak yang telah berumur diatas 40 tahun ini dengan percaya diri mengembangkan konsep sosialis humanis, metode hubungan sosial yang ia petik bukan dari bejibun teori, tapi murni dari tindak tanduk ia sendiri. Menurutnya, kita harus jujur dan terbuka untuk diam dan memperhatikan. Kebutuhan orang lain adalah keinginan kita, sehingga tercipta hubungan timbal balik yang harmonis. Belum tentu kita lebih lebih baik dari tukang becak hanya lantaran kita dengan jumawa memakai mobil. Tapi, realitas yang terbangun bahwa terdapat perbedaan kelas di masyarakat. Dan barangkali diantara kita juga ingin menapak kelas di atas, padahal realitas kelas belum tentu ada, ia hanya direprodusir oleh kita sendiri, oleh zaman dan orang-orang yang berkepentingan. “Ada ego yang terbangun diantara kelas masyarakat. Kita perlu membedakan apa yang disebut kebutuhan dan keinginan itu”.

Sesorang dari kami bertanya, bagaimana mengetahui kebutuhan masyarakat itu? Ditengah penyeragaman keinginan dan mungkin kebutuhan oleh para ilmuan atau lembaga riset, juga oleh pelaku media. Takwim menjawabnya lugas, “Saya sederhana, saya ingin mayat saya setelah dikafani berangkat dari tangan ke tangan ke liang lahat”. Ada siklus individual yang harus dilewati untuk masuk ke masyarakat. Nah, capaian siklus itu akan menghasilkan ide atau gagasan untuk melakukan perubahan atau menstimulan masyarakat untuk berubah. misalnya, ketika kita membayar pajak, jangan hanya melihatnya memakai kaca mata agama, tapi juga konteks masyarakat. Dengan membayar pajak, kita turut menyumbangkan hidup kita.

“imam gazali, kau tidak berjumpa dengan ku kecuali ada ikatan dengan saya”. Kita perlu menjalin hubungan emosional dengan siapa saja.  Teman adalah kebutuhan dan kepentingan kita. Tapi, proses menjalin hubungan yang harus ditumbuhkan adalah sikap postif. Kalau pun terjadi yang tidak-tidak atau perselingkuhan dari teman, ini merupakan hal wajar dalam permainan kepentingan. Meski begitu, kita harus selalu menjaga keterjalinan hubungan itu. Sebab, dengan banyaknya relasi, kita dapat dengan mudah melakukan spekulasi sosial untuk mendahului rekayasa sosial, karena sebuah rekayasa memerlukan tumbukan yang besar, tentu efeknya besar juga.

Menurutnya, sepekulasi bisa dilakukan dalam lingkup kecil dulu, seperti dalam lingkup keluarga. pernah ia berkumpul dengan keluarganya dalam rangka acara aqiqah, tiba-tiba pengemis lewat dan saat itu Taqwim memang berniat untuk mengajak pengemis juga untuk makan di rumah. Maka masuklah pengemis di kediaman itu. “saya hanya mau menunjukkan ke keluarga, bahwa kita dan pengemis sama-sama manusia”.

Bapak yang juga sahabat budayawan Ishak Ngeljaratan ini bercerita pristiwa subtil yang pernah ia alami. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dari Namlea (Pulau Buru) ke Ambon menumpangi kapal veri. Di tengah perjalanan, ombak menggulung-gulung, dan tiba-tiba mesin kapal berhenti. Para penumpang sontak ketakutan. Tapi, takwim tenang-tenang saja. Ia hanya melipat tangan sembari mengisap rokok. penumpang lain bertanya padanya.

“Bapak tidak takut seperti orang kebanyakan?”

“Saya belum melihat malaikat pencabut nyawa di sekitar sini,” celotehnya. Lalu Taqwim melihat seorang ibu menggendong anaknya. “saya menganggap anak itulah malaikat, tapi bukan malaikat pencabut nyawa, tapi penolong”. Akhirnya mereka tiba dengan selamat di Pelabuhan Ambon. Biasanya, Namlea – Ambon menempuh 4 jam perjalanan, saat itu ditempuh selama 12 jam.

“Yang kita butuhkan adalah menyederhanakan pikiran,” katanya lagi. Dalam masyarakat terdapat kebutuhan kita. Bagaimana kita membangun sosial kultur masyarakat itu dengan mereduksinya ke dalam diri kita. Tentu nantinya akan kembali ke masyarakat juga. Ia paling tahu, bahwa tuhan itu tidak buta.

Seperti yang ia buktikan waktu sebagai tim perdamaian di wilayah Mambi, Sulawesi Barat. Menurutnya, penyebab konfik atar beberapa wilayah itu disebabkan bukan faktor agama atau suku, tapi faktor kekuasaan. Belum lagi, pemenuhan hak-hak dasar di desa-desa tidak terlihat. Di desa belum terlihat sekolah dan rumah sakit, sementara pemerintah hanya ongkang-ongkang kaki. Ketika masyarakat menebang hujan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, saya pikir sah-saha saja.

Pernah juga Taqwim memobilisasi para eks narapidana, yang tergabung dalam SEINI (Serikat Eks Narapidana Indonesia). Waktu itu eks narapidana ramai – ramai mendiskusikan mereka akan bekerja sebagai apa? Banyak opsi yang keluar saat itu, seperti jadi satpam, tukang parkir, kolektur, dan ada yang nyeletuk menjadi tukang mandikan mayat. Taqwim sepakat dengan ide itu, ia pun menginisiasi para anggota SEINI untuk mengikuti pelatihan memandikan mayat. Targetnya eks narapidana ini punya keterampilan khusus yang nanti akan berguna bagi masyarakat. Yang membedakan hewan dan manusia, yaitu manusia selalu memiliki inisiatif.

Konsep sosial pada intinya yaitu bagaimana membuat individu-individu tidak terjebak pada pencapaian kepentingan sendiri, tapi juga memikirkan yang lain. Tentang konsep-konsep dunia, seperti kapitalisme, menurutnya belum tentu jahat, sebab banyak pengusaha yang juga murah hati. Mereka rela mengeluarkan rezekinya untuk kebaikan. “bisa jadi kapitalis lebih humanis,” ujarnya. Dalam menjalin hubungan itu, yang penting tidak saling merecoki dan mengintervensi.

Pengelolaan manusia dalam konteks sosial itu bersifat melingkar, bukan vertikal. Jika vertikal akan banyak hal yang akan dipotong, vertikal dalam hal ini mungkin semacam revolusi. Kita kiranya mampu menghubungkan yang minus ke yang plus, sebab ketika plus ketemu plus, akan saling meniadakan. “sama halnya kalau kita berdebat dengan orang yang berwawasan sempit, temanya akan berputar di situ-situ saja”.

Mungkin, malam itu kita lebih berbicara tentang ide-ide. Ide atau energi yang kita berikan untuk komunitas dan komunitas menyumbangkan energi ke individu. Nah, bagaimana mengukur sikap humanisme itu? satu-satunya jalan yaitu melalui praktek. “siapa yang paling bagus idenya, dia lah yang kita ikuti. Setiap komunitas pun pasti selalu mempunyai seorang pemimpin”.

Pun. Kondisi sosial saat ini merupakan hasil rampokan, maka kita harus merampok juga.

 Terimakasih yang telah hadir

Jikun, dilla, Hadi, idam, mifdah, dani, irwansyah, Fian.

Mengenal Budaya Melalui Etnografi Urban (Cangkir 5)

Mamiri cangkir lima kali ini menghantar kita untuk mengenal mengenai penyebab munculnya elemen –elemen budaya baru, yang tidak lepas dari kultur studi yang melakukan pendekatan dengan memadukan antara etnografi dan masyarakat urban sebagai sebuah pendekatan dalam mengkaji fenomena sosial serta kondisi masyarakat, terutama masyarakat urban. pembicara kali ini adalah Arham, seorang mahasiswa Pascasarjana Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, dan juga alumni sastra Universitas Negeri Makassar.
.
Kajian untuk masyarakat urban melalui pendekatan etnografi di Eropa dan Amerika sendiri telah lama dilakukan. Di mana pengkajian mengenai etnografi di Amerika Serikat pada tahun 1960–an. Pada saat itu pendekatan etnografi lebih mengarah pada pengkajian pembentukan sejumlah kawasan di Amerika Serikat yang terpecah dalam dua kawasan masyarakat, yakni kawasan kulit putih yang memang dikhususkan untuk masyarakat kulit putih Amerika dan kawasan kulit hitam yang dikhususkan untuk masyarakat Negro Amerika. Perpecahan ini tidak lepas karena Amerika pada saat itu mengalami situasi sosial yang cukup rasis.

Dalam perkembangan selanjutnya etnografi secara baca kemudian ditinggalkan. Terutama pendekatan etnografi yang dikembangkan oleh Margaret Mill dalam mengkaji masyarakat Samoang. Mill dituding terlalu positivis dengan pendekatan yang tidak terlalu komperehensif dalam menjawab kompleksitas permasalahan masyarakat urban kekinian yang lebih mengarah kepada moderenisasi dan pluralitas. Beberapa ahli etnografi baru ini menganggap pendekatan etnografi yang dilakukan Margaret Mill saat itu cukup tepat dengan ciri masyarakat yang cenderung homogen dan tradisional dibandingkan dengan konteks masyarakat urban saat ini.

Sementara itu studi etnografi telah melakukan pendekatan baru James P. Spradley, yaitu pandangan yang tidak menganggap etnografi hanya berupa pengamatan terhadap masyarakat yang terisolasi (etnografi baru) saja, melainkan menjadikan etnografi sebagai alat dasar untuk memahami masyarakat dalam lingkup kecil (sekeliling kita) maupun masyarakat multikultural di seluruh dunia. Spardley memasukkan unsur pengalaman individu masyarakat serta kaidah konseptual, kode, dan aturan kognitif “pribumi” dengan pendekatan yang terus menerus dan bertahap dan tidak serta merta menghubungkan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari pendidikan sang antropolog. Sehingga etnografi klasik yang mengkaji masyarakat dalam hanya dalam lingkup kecil dan tidak sistematis kini telah ditinggalkan karena tidak mampu menjawab kondisi permasalah masyarakat yang semakin kompleks, plural dan moderen. Sasaran etnografi-baru yang diajukan oleh James P. Spradley sebagai dalih ialah membuat pemaparan etnografis menjadi lebih akurat dan lebih replikabel daripada yang dianggap telah berlaku pada masa sebelumya.

Jadi seorang ahli etnografi mirip dengan seorang dokter yang sedang mencoba untuk mengerti mengapa seorang pasien menunjukkan simtom-simtom tertentu karena seorang etnografi dapat terjebak pada bias budaya dan kesalahan dalam memahami situasi sosial budaya apa yang tengah terjadi di masyarakat.

Munculnya kekeliruan selama ini dalam membaca masyarakat urban dengan pendekatan etnografi lama tidak terlepas dari kontribusi cultur studies sendiri yang melihat bahwa untuk setiap setiap regresi budaya terdapat resistensi dalam bentuk gerakan alternatif sebagai sebuah perlawanan. Kehadiran seperti rege, hiphop dianggap sebagai sebuah bentuk resistensi dari sebuah regresi terhadap budaya modern yang kapitalis, namun pernyataan ini dianggap terlalu prematur untuk menarik sebuah benang merah dan menyimpulkan fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat urban tanpa menggali lebih jauh kondisi individu dari masyarakat urban itu sendiri.

Contoh kecil penelitian mengenai Angkringan di Jogja. Apabila dilakukan analisa melalui pendekatan cultur studies untuk menilai tentang munculnya pedagang angkringan di Jogja, kemunculan angkringan dianggap sebagai sebuah representasi gerakan alternative, bentuk dari resistensi terhadap munculnya sejumlah makanan siap saji, namun kesimpulan terhadap kehadiran angkringan sebagai resistensi dan perlawanan terhadap kapitelisme global menjadi salah kaprah karena ternyata orang yang menjual dan berbelanja di angkringan bisa saja tidak memiliki kesadaran untuk membentuk gerakan alternative sebagai perlawanan terhadap kehadiran restoran siap saji yang hadir di Jogja. Malah angkringan dianggap hanya tempat untuk kepentingan berbelanja dan berjualan.

Sedangkan terkait kemunculan kaum urban ke perkotaan sendiri di Eropa terutama Inggris cukup berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Dalam sejarah Inggris pemunculan kaum-kaum urban buruh di Inggris yang dikaji dalam buku “The Use of Literasi” menggambarkan bahwa kedatangan orang-orang di pedesaan menuju perkotaan karena adanya imaji yang diharapkan di perkotaan untuk memperbaiki kualitas hidupnya dengan menjadi buruh pabrik, sehingga kaum urban (buruh) yang berkumpul diperkotaan ini membentuk kelas marginal. Kedatangan kaum urban dari pedesaan ke kota di Inggris ini juga tidak terlepas dari penemuan mesin-mesin dan teknologi baru (Revolusi Industri ) pada abad ke- 18 yang menyokong suburnya pertumbuhan industri serta hilangnya sejumlah tanah petani miskin dan meluasnya tanah kaum bangsawan akibat dari Revolusi Agraria.

Sementara di Indonesia munculnya masyarakat urban di perkotaan pada tahun 1990-an justru tidak terlepas dari munculnya Revolusi Hijau yang dihadirkan dan digerakkan oleh Rezim Orde baru. Sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, namun di sisi lain menyebabkan masyarakat tani miskin kehilangan tanah karena ketidakmampuan mereka bersaing dengan petani besar. Alhasil sejumlah petani miskin yang tersingkir terpaksa berbondong-bondong menuju kota untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan layak. Kehadiran masyarakat urban saat itu justru dijadikan peluang yang menguntungkan Rezim Orde Baru dalam menyediakan tenaga buruh murah dalam menyokong industri di perkotaan dan menarik investor dari luar negeri.

Kemunculan kaum urban di daerah-daerah perkotaan sendiri tidak serta merta secara menyeluruh melakukan pembauran dan beradaptasi dengan kondisi budaya perkotaan yang lebih modern, individualis dan materialistic, akan tetapi justru beberapa diantaranya melakukan resistensi budaya terhadap kondisi budaya perkotaan dalam bentuk subkultur dengan membentuk gerakan alternative seperti hippies, punk, dll. Namun karena semakin popularnya gerakan kebudayaan kaum marginal malah situasi ini menjadi mainan kaum kapitalis, contoh pada tari tango dan hip hop yang berasal dari kaum urban di Argentina ketika sampai di Indonesia justru digemari kalangan menengah atas di Indonesia.

Resistensi inilah inilah yang kemudian menjadi elemen –elemen budaya baru tersendiri di mana perkerutan dunia akibat akses teknologi dan informasi yang semakin mudah memungkinkan terbentuknya sebuah budaya baru.

Untuk konteks di Indonesia pergeseran budaya masih bisa diretas kecuali di Papua yang masih cenderung belum bergeser menuju kota kosmopolitan karena rendahnya pendidikan dan akses teknologi. Sedangkan di Makassar Kemacetan yang terjadi di Makassar bisa saja memunculkan sebuah budaya baru di masyarakat yang mengalaminya dari situasi social yang terjadi.

Sementara mengenai konteks penggerusan budaya etnik, pergeseran bisa diamati di Kajang Dalam, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, di mana masyarakat Kajang Dalam menjalani kehidupan memiliki prinsip kamase-kamasea dan selaras dengan alam namun penjagaan adat ini mulai melunak dan bergeser sedikit demi sedikit melalui transformasi budaya. Pola perubahan di Kajang sendiri menarik di mana prinsip hidup yang kuat tidak mampu melawan dan membendung imajie dan kenyamanan modernisasi walaupun masih ada warga beberapa yang melakukan perlawanan. Padahal masyarakat Kajang memiliki identitas tersendiri melalui prinsip hidup dan budaya mereka.

Yang menarik pula perbedaan etnik kadang menjadi sebab terjadinya konflik yang terjadi di Makassar terutama pertikaian antara organisasi daerah mahasiswa, padahal etnik merupakan kontruksi sosial yang secara prinsipil tidak berbeda dengan yang lain hanya merupakan bentukan dari identitas dalam menyatakan kedirian dan kelompok, berbeda dengan ras yang memang merupakan bentukan biologis. Namun bila ditilik konflik etnik yang terjadi di Kota Makassar khususnya Indonesia tidak terlepas pula dari sejarah kolonial masa lalu yang digunakan oleh kaum penjajah nusantara yang seharusnya sudah lama diberangus.

Iqbal Jafar

Kebijakan Moneter dalam Pembangunan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan (Mammiri Table cangkir 4)

Pada malam jumat (Kamis, 28 Juni 2012) itu, mammiri table mengundang Yoszeth Wandri untuk ngopi di warkop mammiri. Yoszeth sekarang aktif sebagai penulis bidang ekonomi moneter regional, selain itu aktif di Corner (Centre of Regional research), yang berfokus pada penelitian pengaruh perbankan pada pembangunan pertanian.

Malam itu kami tidak sekadar ngopi, tapi juga berpusing-pusing ria. Tapi, kata filosof, sebelum tiba pada pemahaman harus melalui gerbang kebingungan itu. Dan kami, Jikun, Dilla, Ikbal, idham, melewati malam itu berat-berat ringan, berat karena temanya yang selalui dihantui angka-angka dan logika ekonomi, tapi ringan lantaran pembahasannya yang santai namun disertai rasio-rasio ekonomi, seperti pertumbuhan, nilai mata uang, bunga bank, investasi, produktivitas, menyeramakkan pasar, semangat berusaha. Serta persoalan buruh/tenaga kerja, petani, dan bagaimana menggandengkan pertumbuhan dengan kesejahteraan.

**

Masa kini problem klasik yang selalu menghantui kita yaitu masalah ekonomi. Mengapa? sebab besar manusia selalu menganggap ekonomi sebagai sesuatu yang sangat mendasar (basic need). Ekonomi berperan dalam mempertahankan hidup saat ini, masa depan dan menjadi catatan perjalanan hidup masa lalu. Namun, kita tidak bisa mengingkari juga bahwa ekonomi bukan salah satu sumber masalah, tapi bagian dari kompleksitas masalah yang muncul seperti kaitannya dengan persoalan sosial dan budaya. Dengan begitu, sangat berkenaan dengan istilah kesejahteraan (welfare).

Dalam suatu negara, banyak langkah bisa ditempuh untuk menuju kesejahteraan, dimana taraf hidup masyarakat telah mapan atau telah tercukupi kebutuhan-kebutuhannya. Namun melihat kondisi saat ini, sudah begitu carut-marut dan menuju ke sana pemerintah harus komit dan membebaskan dirinya dari unsur-unsur korup. Tentang kemiskinan ini, kita pastinya selalu menghindari atau tidak ingin menjadi miskin. Bagaimana pun pemaknaan dari miskin itu sendiri.

Ironisnya, kemiskinan (poverty) atau miskin (poor) menjadi format hitam dalam putih, kemiskinan menjadi wacana atau masalah yang selalu ada, bahkan setiap detik selalu saja bertambah. Untuk itu kemiskinan menjadi sesuatu yang selayaknya di pikirkan terus menurus, karena kemiskinan “mungkin” tidak akan pernah hilang di muka bumi ini. Sampai Sang Pencipta meniadakan alam semesta dan kita semua manusia menghadapi babak baru, dunia yang kita jalani setelah ini sudah tiada, dunia yang kita fahami dalam keyakinan masing masing.

Meskipun kemiskinan yang menjadi masalah yang sangat mendasar, namun pemerintah kadang dilematis dalam menentukan arah dari suatu kebijakan. Apakah pemerintah berorientasi ekonomi pertumbuhan ataukah pada pemerataan ekonomi? Keduanya memberi harapan jika ditindaklanjuti sesuai log frame masing-masing. Yaitu harapan akan menurunnya tingkat kemiskinan, partipasinya, dan harapan dari kenyataan kemiskinan.

Pada kasus Indonesia, para pelaku ekonominya dalam pengambil kebijakan memilih poin-poin yang berorientasi pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dapat memacu sektor-sektor lain untuk terus bergerak, sehingga pasar hidup dan pertukaran barang mengalir, sehingga ekonomi masyarakat pun terdongkrak. Ada semacam trickle down effect yang mengantarkan masyarakat pada kesejahteraan.

Pada kenyataannya, arah kebijakan yang berorientasi pertumbuhan ini juga harus melihat tools atau indicator ekonomi yang diterapkan. Agar orientasi ini bisa terlaksana, ternyata indikator ekonomi pada sektor moneter-lah yang cukup bisa diandalkan sebagai pendongkrak dari cita cita kebijakan ini. kebijakan moneterlah yang bisa membawa Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa menyelesaikan segala problematika ekonomi Indonesia, khususnya dalam wilayah kemiskinan.

Perlu kita ketahui bahwa kebijakan moneter adalah kebijakan otoritas moneter yang dimana kebijakan ini dilakukan oleh lembaga keuangan untuk mengendalikan inflasi dan jumlah uang beredar, dalam hal ini (BI).

Kebijakan moneter, diskusi di imperial, pak taslim, tahun 2001, golman sach mengeluarkan pernyataan ada kelompok rich, pertumbuhan ekonomi negara yang tinggi, yang diperkirakan menggantikan negara-negara kaya saat ini. Salah satunya adalah Brazil, land reform (reformasi agraria, kepemilikan).

Goldman Sach (2001), berpendapat bahwa terdapat kelompok Negara Kaya (rich) yang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan diperkirakan menggantikan posisi negara-negara kaya saat ini. salah satunya adalah fenomena Brazil yang dianggap berhasil menyelenggarakan reformasi agraria (pemilikan lahan).  Brazil, Cina, dan India yang diperkirakan pada tahun 2050 mempunyai pertumbuhan yang cukup tinggi. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi dengan negara ini?

Di beberapa Negara ini telah melakukan reformasi kebijakan seperti di Brazil dengan reformasi lahan kepemilikan lahan (land reform own) dalam kadar yang proporsional. Dimana para pemilik tanah/lahan di berikan beberapa kenyamanan dalam mengakses pinjaman (credit) yang diberikan oleh pemerintah. kenyamanan bagi para petani dan pemilik lahan ini dengan melihat aturan yang disepakati, yang tidak memberatkan si pihak peminjam kredit. ini sebagai langkah taktis dan strategis agar bentuk pinjaman  yang bersumber dari negara bisa dirasakan dengan sangat mudah dan tidak berbelit belit, seperti pada prosedur dan administrasi birokrasinya.

Pinjaman tersebut dapat meningkatkan sektor ekonomi kreatif, seperti memberikan rangsangan pada sektor umkm menengah ke bawah  agar nantinya sektor ini bisa kembali kepada Negara atau Negara merasakan  feed backnya. Negara pun tidak merasa berat dalam penyusunan anggaran belanja. Namun dalam kebijakan reformasi lahan dibutuhkan juga kebijakan reformasi modal (capital reform). Capital reform ini menjadi tinjauan kebijakan moneter dalam skala makro policy. Maksudnya adalah kebijakan reformasi modal ini melihat rentetan dan pertimbangan, pemerintah dalam hal ini bisa menselaraskan kebijakan seperti tingkat suku bunga, pajak, jumlah uang yang beredar (velocity of money).

Harapan dari kebijakan ini untuk meretas kemiskinan. Kemiskinan yang bersektor pada kebijakan mikro, seperti penentuan harga pasar, quantitas faktor input barang dan jasa yang di perjualbelikan yang bagaimana perilaku bisa mempengaruhi penawaran atas permintaan barang dan jasa. nantinya pun akan menentukan harga serta bagaimana harga ini mengalir bagai bola terakhir, dimana siapa yang mempunyai kesempatan mengelola bola tersebut.

Apabila hal ini berjalan dan tidak mengalami hambatan, maka niscaya kebijakan ini bisa menjadi solusi dalam pembangunan ekonomi. Jauh dari kata inflasi yaitu “kenaikan harga harga kebutuhan umum (sembako)  secara bersamaan” , mengapa inflasi ini harus dihindari dan harus dijaga posisinya agar tidak terlalu besar, karena inflasi ini mempunyai pengaruh yang sangat besar kepada daya beli masyarakat  (purchasing power parity). Namun inflasi ini bisa dihindari dengan melihat penyebab inflasi seperti, a) demand full adalah kenaikan permintaan secara agregat (keseluruhan) yang sangat besar di bandingkan dengan jumlah barang yang ditawarkan. b) cost push adalah adanya kenaikan biaya produksi yang pesat dibandingkan dengan tingkat produktivitas dan efisiensi sehingga perusahaan mengurangi supply (penawarannya), peningkatan biaya produksi ini mendorong perusahaan menaikkan harga. c) imported adalah naiknya harga barang barang di negara tersebut sehingga terjadi kenaikan harga di pasar dalam negeri. Itulah singkatnya mengapa inflasi harus dihindari karena sangat betul-betul menurunkan daya beli masyarakat.

Namun dalam pembahasan bagaimana inflasi bisa ditekan dan bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa dicapai sesuai yang di harapkan, maka disinilah kebijakan moneter sebagai salah satu cara (solusi kebijakan) untuk meraih harapan tersebut. Tujuan kebijakan moneter di gunakan adalah a)menjaga stabilitas harga b)pertumbuhan ekonomi c) perluasan kesempatan kerja d) keseimbangan neraca pembayaran e)stabilitas pasar financial f) stabilitas pasar valuta asing.

Yang harus kita ketahui dalam ekonomi, ada dua  pasar, Pasar sector rill: pasar  distribusi barang dan jasa, sedangkan pasar sector financial (portofolio) adalah pasar dimana arus lalu lintas modal, seperti saham, surat berharga. Pada kebijakan moneter ini yang difokuskan adalah kebijakan uang beredar, dimana negara dalam hal ini otoritas moneter suatu Negara bisa betul-betul mengatur jumlah uang yang beredar. Seperti uang dasar adalah uang yang tersimpan (tabungan) yang sifatnya spasional. Sedangkan uang kartal adalah seperti surat berharga (saham dll).

Relevansi kebijakan moneter dalam pertumbuhan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan adalah di butuhkannnya transmisi economi moneter  (direct moneter), dimana pemerintah bisa memainkan perannya dalam ini otoritas moneter bisa betul betul mengendalikan pengaruh jumlah uang yang beredar. Karena “semua krisis di dunia ini terjadi di sector pasar uang” .

terjadi pada tingkatan buble economy, yang dimana adanya kegiatan ekonomi yang tidak nyata yang diakibatkan terlalu tingginya tingkat expectasi. Suatu barang yang bergerak terus-menerus nilainya, sedangkan hakikatnya tetap pada nilainya, tanpa adanya perubahan atau pertambahan pada barang tersebut. Apabila terjadi krisis economi maka peran bailout dibutuhkan agar sentimen pasar tidak memburuk, karena apabila pelaku pasar terpengaruh oleh kondisi psikologi pasar, maka arus investasi yang masuk ke dalam negeri akan keluar dari dalam negeri (capital out flow) dimana sector investasi akan memburuk dan kondisi lapangan pekerjaan akan berkurang.

Apabila kondisi lapangan bekerja berkurang maka otomatis sektor konsumsi dalam negeri pun ikut menurun, apalagi seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah Negara yang ekonominya ditolong dan ditopang oleh sector konsumsi. Itulah juga sebabnya mengapa Indonesia tetap dalam kondisi ekonomi aman ketika negara lain terkena dampak krisis.

Meskipun Indonesia tergolong sebagai Negara yang menganut pasar terbuka (open market) dikarenakan kegiatan ekonomi Indonesia ada pada sector rill, sector distribusi barang dan jasa, sector yang dimana konsumerisme sangat dibutuhkan sebagai prasyarat suksesnya sector ini, dan juga sector pasar ekonomi Indonesia bukan lagi ke wilayah Eropa melainkan ke wilayah pasar Asia atau daerah timur. Dalam kebijakan moneter untuk mengatasi krisis ini diperlukan beberapa solusi, seperti halnya ketika sector perbankan sedang mengalami kemerosotan, misalnya ada suatu bank yang akan mengalami collapse makan otoritas moneter harus melakukan cara-cara agar suatu bank tertentu tidak menularkan kepada bank yang lain atau mengalami dampak sistemik. Dampak ketika suatu mata rantai kegiatan ekonomi rusak, maka dia akan merusak mata rantai yang lainnya, semacam domino effect. Tetapi peristiwa ini terjadi biasanya bukan bencana murni dari kebijakan ekonomi namun ada beberapa factor lain yang ikut menunggangi seperti pada political interest, dimana orang orang yang menunggangi moment keruntuhan ekonomi dalam kebutuhan politik.

Hal ini sangatlah lazim karena ekonomi adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar, sehingga ada beberapa kepentingan yang masuk untuk manfaat kepentingan lainnya, seperti kepentingan golongan atau kelompok tertentu.

Dalam pembahasan kebijakan moneter dalam pertumbuhan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, realitas yang terjadi pada orang miskin kadang tidak tersentuh langsung atau tidak bisa merasakan langsung kebijakan moneter itu. Misalnya, kebijakan moneter dalam hal pemberian kredit masih sulit didapatkan para kaum miskin. Yang ingin menaikkan taraf hidupnya, mengembangkan usahanya lewat sektor bantuan-bantuan kredit, alasannya mengapa kaum miskin ini sangat susah untuk mendapatkan kredit atau pinjaman. hal ini barangkali yang terkonstruk dalam sebagian besar pandangan kaum perbankan yang mengeluarkan kebijakan dan kebijaksanaan bahwasanya kaum miskin ini sangat susah dipercaya (trustman).

Apalagi tidak sebandingnya pinjaman yang diajukan dengan jaminan yang diberikan. Radhubashu Seorang ekonom dari India mengatakan bahwa faktor trustman dan factor jaminan membuat seseorang tidak bisa keluar dari ruang kemiskinan melalui pola usaha usaha mereka sendiri untuk keluar dari kemisikinan. Mereka yang tergolong kaum miskin desa (rural) sangat sulit untuk mendapatkan akses kredit dan ditambah dengan beban tingkat bunga di pedesaan sangat tinggi, alasannya adalah factor resiko yang sangat besar, mungkin dengan alasan pertimbangan bahwa masyarakat pedesaan bergerak di sector pertanian, dimana barang di seKtor pertanian tidak bisa bertahan lama sehingga nilai pengembalian kembalinya (return rate) relative lebih kecil, yang selanjutnya adalah peminat yang sedikit.

Mungkin harus dipikirkan kembali mengapa peminat bantuan kredit yang diberikan kecenderungannya sedikit, ini karena kondisi psikologi orang pedesaan sangat jauh beda dengan masyarakat kota. Kondisi masyarakat pedesaan selalu beranggapan bahwa hari ini adalah hari ini, esok adalah esok, itu juga mengapa masyarakat miskin desa sangat susah keluar dari ruang kemisikinan, disebabkan kurangnya pengetahuan hidup tentang masa depan yang terkungkung oleh nilai agama atau budaya yang sifatnya sangat dogmatis dan konservatif.

berikutnya adalah monopolistik lembaga perbankan, kita sendiri telah mengetahui bahwa monopolistik itu melahirkan kondisi yang tidak sehat secara jasmani dan rohani, tidak sehat secara sosial dan agama. Apalagi monopolistic tidak mempunyai frame kesejahteraan untuk masyarakat. Ada solusi lain yang bisa dilakukan oleh Negara dalam hal ini sektor pemberian kredit, sehingga problem susahnya mendapat kredit bisa teratasi yaitu konstribusi perbankan syariah dengan metodologi syariahnya. Namun kendala yang dihadapi oleh perbankan syariah pun tidak kecil. Mereka harus lebih selektif karena besaran modal tidak pernah mencukupi jumlah banyaknya peminjam kredit melalui jasa perbankan syariah, sementara perbankan syariah harus mematuhi pola besaran keuntungan dari hasil peminjaman melalui mekanisme procedural  dengan pola akad. Tidak seperti dengan yang konvensional.

Namun yang terpenting adalah bagaimana suatu pertumbuhan ekonomi bisa tercapai dengan hasil bahwa kemiskinan juga ikut menurun adalah akses kredit dan pembiyaan di mulai dari sector umkm.

Muh. Shulkadri. Am

Ekonomi Pasar Sosial, Konsep Ekonomi Informal Kaum Urban (Mammiri table cangkir 3)

Hari Selasa lalu, 26 Juni 2012, Mammiri table beraksi lagi. Kini kami mengundang M. Nawir, tokoh gerakan sosial di Makassar. Kak Nawir adalah senior sekaligus tauladan bagi kita yang ingin membangun atau memperkuat gerakan sosial ditingkat grassroot. Beliau tidak hanya khatam dari segi teori, khususnya teori-teori kritis, tetapi juga matang dalam strategi dan gerakan. Hingga saat ini, telah banyak yang beliau lakoni, yang pelan-pelan membangun sistem gerakan sosial baru di Indonesia. Bersama kawan-kawannya, ia membangun KPRM (Komite Perjuangan Rakyat Miskin) Makassar, serta organisasi Civil Society yang bergerak untuk masyarakat urban. Selain itu, beliau punya banyak pengalaman dalam mengembangkan struktur masyarakat pasca bencana dan membantu mereka dalam relokasi dan konsep rancangan arsitektur daerah relokasi.

Mulanya kami berbincang sepintas pengalaman-pengalaman yang selama ini beliau kerjakan. Seperti pengalaman menarik beliau dalam menangani pembenahan rumah warga di kawasan rawan banjir atau ROB di Bungkutoko, Kendari, Sulawesi Tenggara. Menurutnya, Bungkutoko merupakan salah satu program bedah kampung yang paling efektif dan efisien. Dengan model rumah tinggi yang terbuat dari kayu, dengan pola yang seragam dan berwarna-warni, serta dengan harga yang terjangkau, Rp. 7 juta per-rumah, masyarakat rawan bencana akhirnya bisa mendapatkan hunian yang layak.

Kak Nawir sangat bersemangat malam itu, malam yang membincangkan sebuah konsep “Jejaring Ekonomi Informal” yang dipimpin oleh Sasliansyah Arfah. Nawir bercerita, bagaimana warga-warga kota memproduksi produk berupa makanan dari hari ke hari untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Ada yang menjual kue tradisional, menjual bakso, menjual penganan-penganan yang bisa habis dalam sehari. Hebatnya, selain mereka menjual kue dalam sehari itu, sisa kue tidak yang tidak habis bisa mereka konsumsi sendiri atau mereka berikan pada tetangga-tetangga.

Hasil produksi bahan makanan mereka pun diindikasikan sehat, sebab tidak lagi menggunakan bahan pengawet karena bisa habis dalam sehari. Selain itu akan menggiatkan ekonomi lantaran pertukaran bahan baku, yang bisa jadi bahan baku tersebut berasal dari luar kota atau pedesaan. Misalnya, kue putu cangkir, bahan dasar berupa kelapa bisa diperoleh dari pedesaan, sehingga turut menyumbang nilai bagai masyarakat desa.

Melihat potensi nilai ekonomi model informal ini, kak Nawir menawarkan konsep, berupa Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR), yang berlandaskan prinsip Ekonomi Pasar Sosial (EPS). Konsep ini sebenarnya menerapkan prinsip-prinsip dasar koperasi ala Muh. Hatta, lagian koperasi saat ini banyak yang kehilangan ruh karena pengaruh duit. BUMR merupakan konsep pengembangan ekonomi yang mempertautkan kemandirian usaha rakyat, khususnya di sektor informal dengan penguatan organisasi dan daya tawar politik (political gain).

Sehingga akan muncul badan usaha berbasis organisasi pekerja miskin perkotaan. kegiatan sosial yang terorganisasi ini digerakkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang sadar organisasi serta jaringan. Organisasi dianggap penting untuk mengupayakan kesejahteraan, pelayanan sosial, dan kesetaraan politik. Ketiga komponen ini menjadi prasyarat keberlangsungan entitas sub-kultur organisasi rakyat. Sehingga diharapkan akan mampu mengatasi kerentanan sosial-ekonomi, dengan pengorganisasian unit usaha dan pemenuhan hak-hak politik.

Ekonomi Pasar Sosial merupakan kerangka teoritis yang mampu menerangkan BUMR ini. salah satu dalil utamanya menurut Kak Nawir, “sebaik-baiknya sistem pasar bilamana memungkinkan, sebanyak-banyaknya peran negara bilamana diperlukan,” Karl Schiller, Menteri Ekonomi Jerman (1966 – 1972). Kak nawir kemudian berangkat dari teori ekonomi berupa hukum permintaan dan penawaran, dimana pembeli dan penjual saling berinteraksi. Namun, dimana otoritas pemimpin negara sebagai representasi rakyat?

Sebenarnya, negara dibutuhkan untuk mencegah terjadinya relasi sosial “sianre bale”, atau hukum rimba dimana manusia yang satu mengeksploitasi manusia yang lain. Sehingga, ekonomi sosial harus ditopang oleh negara dengan sistem dan kepemimpinan yang kuat untuk mengintervensi pasar jika terjadi penindasan sebagai akibat kompetisi penuh (perfect competition).

Ekonomi Pasar Sosial (EPS) yang kaitannya dengan sektor informal ini sangat rentan terkendala oleh program pembangunan atau pengembangan wilayah kota. Kota sebagaimana negara selalu saja meremehkan yang kecil-kecil dan enggan melakukan pengorganisasian ekonomi mereka, disamping pembenahan model tata ruang dan ekologis mereka. Maklum untuk urusan kebersihan dan semacamnya, para pelaku ekonomi informal ini belum terlalu mereka pikirkan, karena masih membawa kultur desa. sementara kondisi kota yang sempit dan berdempet-dempet justru dapat menyebabkan pemandangan tak sedap terhadap sampah, sehingga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Dua hal yang menyebabkan fenomena itu yaitu pelaku sektor informal tidak seragam dan masih tingginya sifat-sifat kultural (konvensi, kekerabatan, komunikasi).

Melihat itu, pemerintah punya kewajiban untuk mengarahkan mereka, sebab jika tidak akan semakin berlarut-larut dan pada akhirnya mencapai titik puncak yang penanganannya terpaksa harus lewat jalan kekerasan. Misalnya pedagang-pedagang kaki lima dan gandengan jika dirawat dan dibina sejak awal, fenomena penggusuran tidak akan terjadi lagi.

Sehingga, EPS tak lain adalah keseimbangan antara produktivitas dan tujuan sosial (kesetaraan dan keadilan sosial). Ketidaksetaraan dalam kualitas ekonomi dan akses pendidikan rakyat akan menghambat penggunaan hak-hak politik. Pondasi EPS yaitu serikat-serikat pekerja, kemitraan sosial, dan keputusan kolektif pelaku Usaha (rumahkampungkota.blogspot.com). EPS menjamin pemenuhan hak ekonomi-sosial-budaya (EKOSOB) dan perlindungan hak sipil politik (SIPOL).

BUMR tidak melepaskan sokongan negara, negara berfungsi memanajemen jalur-jalur distribusi sesuai kebutuhan. Sehingga sangat dibutuhkan terbangunnya sistem keanggotaan organisasi sosial yang mendahului organisasi usaha, dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan anggota-anggotanya. Para anggota unit usaha dikenai 10 persen pertransaksi sebagai tabungan, yang nantinya dapat diperoleh anggota sebagai SHU (sisa Hasil Usaha). Dengan adanya keorganisasian sosial tadi, maka konsumen pun diorganisir atau dijaga interaksinya dengan pola multilevel marketing.

Unit usaha juga dapat meningkatkan aktivitasnya melalui praktek menabung. Secara tidak langsung, praktek menabung dapat membangun kepercayaan anggota, menciptakan model kepemimpinan skala kecil, dan mengikat anggota untuk pemilihan pemimpin. Kepengurusan tanbungan ini pada skala komunitas kecil masyarakat membutuhkan tiga orang, yaitu ketua, kolektor dan bendahara. Masyarakat diminta untuk memilih sendiri pemimpinnya, juga kolektor dan bendahara. Pemimpin dan kolektor bertugas untuk menggali informasi dan menjalin hubungan dengan warga, bendahara berurusan dengan pembukuan. Masyarakat yang telah menabung tidak dianjurkan untuk mengambil uang mereka dalam jangka waktu tiga bulan. Jika ingin mengambil setelah tiga bulan untuk membangun usaha, jumlahnya tidak melebihi separuh dari tabungan.

Dengan model tabungan ini, uang dipersiapkan atau dibangun dari dalam, sehingga akan memperkokoh organisasi rakyat dalam hal kemandirian. Sebab dengan adanya tabungan bersama itu, akan membangun kohesi atau kepercayaan dengan nilai-nilai yang dipercayai bersama. Kak Nawir beranggapan bahwa jika uang berasal dari luar masyarakat, misalnya dana bantuan, itu tidak berefek panjang terhadap keorganisasian masyarakat, sebab dengan uang segar seperti itu pada dasarnya masyarakat belum siap.

Kak Nawir beranggapan bahwa langkah utama yang terlebih dahulu harus dilakukan yaitu dengan membangun basis-basis politik dengan kepemimpinan-kepemimpinan lokal. Pemimpin yang muncul itu harus betul-betul merupakan representasi publik. Sehingga, para pemimpin ini dapat mencegah atau melakukan perubahan struktur politik bilamana struktur yang ada tidak menjamin kesejahteraan masyarakat, termasuk tidak memberikan kesempatan politik kepada warga.

Komunikasi Politik sebagai Medan Pertarungan (Mammiri Table cangkir 2)

Mammiri table part II sudah sedikit lebih terarah dengan tema yang jelas, yaitu komunikasi politik di era reformasi. Waktu itu (Sabtu, 23 Juni 2012) diskusi dipimpin oleh seorang senior Unhas bernama Kak Rahmad M Arsyad, yang biasa kami sapa Abang. Beliau saat ini sementara melanjutkan kuliah doktralnya di Universitas Padjajaran, Bandung.

Kak Rahmad kami kenal di kampus sebagai salah seorang tokoh mahasiswa pada tahun-tahun 2004 – 2007. Ia pernah memimpin salah satu organisasi paling seksi di dunia kemahasiswaan, yaitu ketua Unit Kegiatan Pers Mahasiswa. Wacana-wacana kak rahmad selain bergema di forum-forum, juga banyak bertebaran di media-media kampus, termasuk di koran kampus identitas saat itu. Seusai kuliah, Abang Rahmad aktif sebagai lokomotif penggerak salah satu calon walikota di Kota Palu saat itu (Rusdy A Mastura). Dengan kejeliannya dalam berfikir, merancang konsep dan membangun relasi, ia pun bersama organisasi yang dibuatnya, Idec, berhasil memenangkan walikota. Sehingga dapat menorehkan catatan-catatan konsep buat diterapkan di kota Palu. Ia tidak hanya berfikir dan berpidato, tapi juga bergerak. Setelah itu, ia melebarkan gerakannya dengan membuat majalah yang bernuansa bisnis, yaitu Investasi KTI. Majalah ini ia bangun bersama beberapa anak muda, bersifat mandiri dan ideologis.

Kami pun membuka forum dengan pengantar bahwa komunikasi terbangun atas dasar lingkaran bahasa dan informasi. Informasi itu pun bersifat biner/oposisi, saling menguatkan, dan terdapat landasan memori/metateks didasarnya. Ketika kita mengucapkan merah, dalam kepala kita pasti ada warna lainnya. Ketika kita menyebut kursi pasti ada benda-benda lain yang menguatkannya, seperti meja.

Bang Rahmad memulainya dengan mengungkapkan bahwa komunikasi adalah pesan, baik itu dalam bentuk verbal, non verbal, tulisan, lisan, mimik dan gestur. Segala sesuatu yang menghasilkan pesan adalah komunikasi. Politik disebutkan sebagai cara untuk mencapai tujuan atau kekuasaan (Machiaveli), sehingga komunikasi politik adalah cara-cara mendistribusikan pesan-pesan politik.

Perbedaan komunikasi politik waktu orde baru dengan orde reformasi adalah terletak pada salurannya. Saat orde baru model komunikasi berupa one way komunikasi (satu arah) dan hanya berasal atau dipegang oleh kekuasaan. Sementara pasca orba pola komunikasi bersifat terbuka. Penyebab-penyebab perubahan, antara lain : pertama, asas politik sudah bergeser, sumber distribusi kepentingan berubah, meski kaum elit tetap memegang peranan. Kedua, mekanisme pemilihan/kepartian berganti, orang bebas mendirikan partai dulu hanya tiga partai, itu pun dikontrol oleh penguasa.

Untuk melacak saluran komunikasi politik ini ada beberapa hal yang harus ditandai, yaitu : positioning, policy (kebijakan), person (pencitraan), partai. Penekanannya bisa dengan beragam metode, bisa melalui tekanan (push) marketing terhadap pencitraan, pull marketing, pass marketing ataupun melalui polling (riset). Metode yang marak diterapkan saat ini yaitu dengan presentasi diri (pencitraan), bisa dengan pemberian uang (uang sebagai representasi diri) atau dengan memasang baliho/poster banyak-banyak (poster mewakili diri calon di tempat itu. Tapi, metode yang paling tinggi tingkat kemungkinannya (probabilitasnya) yaitu dengan pendekatan yang intens terhadap konstituen. Semakin sering seorang calon berinteraksi dengan konstituen, kemungkinan untuk terpilihnya ia sebagai wakil semakin besar (modal sosial telah terbentuk). Boleh dikata, komunikasi sekarang menurut abang rahmad adalah komunikasi politik yang mengalami proses hipersemiotik.

Kondisi perpolitikan saat ini mengalami kemerosotan nilai, antara legislatif (Policy, legislasi) yudikatif (ranah hukum), dan eksekutif (pelaksana) tidak jelas siapa membicarakan apa, sebab konsep triangle ini tidak lagi berfungsi sebagai saluran, termasuk saluran komunikasi. Konsep di Indonesia begitu kabur antara presidensial atau parlementer. Partai-partai pun tidak begitu paham konstituennya, sehingga terkadang pesan yang mereka sampaikan tidak lagi diketahui pola-polanya. Bahkan boleh dikatakan bahwa pesan politik yang mereka bawa tidak berdasarkan asas yang jelas. Tidak memiliki ideologi.

Sekarang, saluran-saluran komunikasi lebih dikuasai oleh para pemilik modal, yang biasanya berkalaborasi dengan partai-partai politik. Dengan begitu, secara sistemik memang tidak lagi memberikan kesempatan kepada yang tidak memiliki modal (material) untuk maju sebagai pemimpin. Padahal, yang seharusnya menjadi pemimpin adalah para pemilik modal sosial dan budaya, bukan sekadar pemilik modal ekonomi.

Partai pun hadir hanya saat menjelang pemilu/kada, yang penunjukan person atau tokohnya berlandaskan transaksi ekonomi. Sehingga pemimpin yang dimunculkan tidak betul-betul lahir dari rahim kebudayaan masyarakat. Partai lebih sebagai pelaku, tapi tidak lagi memiliki fungsi kaderisasi. Partai sekadar bertujuan sebagai sarana untuk menyampaikan atau menghasilkan kebijakan-kebijakan politik.

Nah, melihat fungsi partai yang sangat urgen namun kehilangan asas ini, terdapat pula kemandekan-kemandekan, seperti kendala jarak dan ongkos politik. Sebab, saat ini partai politik ketika sudah terdaftar, maka pemerintah wajib untuk membiayai partai tersebut. Partai-partai pun akhirnya menjadi beban negara. Menurut Abang Rahmad, seharusnya partai-partai itu ditanggung oleh publik, yaitu pihak-pihak yang merasa aspirasinya bisa tersampaikan melalui partai.

Salah satu rumusan cara untuk membenahi prosedur kepartaian di Indonesia yaitu dengan jalan menerapkan sistem federasi. Sistem ini menjadikan partai lokal memegang kuasa penuh untuk daerahnya masing-masing. Sehingga ongkos politik lantaran jalur kordinasi antara pusat dan daerah begitu panjang, bisa segera dipangkas. Partai lokal tidak lagi mengurusi hal-hal yang bukan wilayah territorialnya.

Namun, penerapan sistem pederasi ini masih membutuhkan kajian yang mendalam. Karena tetap ada kekhawatiran bahwa para pemimpin lokal yang muncul tetap saja menganggap dirinya sebagai raja-raja kecil, yang dengan leluasa memeras rakyatnya.

Saat ini berlangsung otonomi daerah yang dianggap representasi dari pola federasi, tapi mekanisme desentralisasi ini tetap saja menimbulkan tanda tanya, sebab tetap saja keputusan-keputusan penting berasal dari pusat. Dan pusat tidak betul-betul mengetahui keadaan di daerah-daerah. Ini bisa dilirik dari mekanisme pembagian anggaran di Indonesia, 60 persen anggaran berputar di kawasan jabotabek, setelah itu baru daerah Jawa, sisanya yang paling sedikit itulah yang disebar  ke seluruh pulau di tanah air.

Salah satu kendala utama Indonesia mengalami kesulitan dalam pembagunan, sebab tidak adanya data yang pasti tentang potensi atau nilai ekonomi daerah-daerah di Indonesia. Sehingga, kita kesulitan untuk mengatakan bahwa suatu daerah itu miskin atau kaya, sebab itu hanya persepsi dan tidak berlandaskan data-data riil. Mungkin, belum ada riset mendalam tentang ini sehingga Indonesia tidak memiliki sertifikat keuangan negara yang memuat nilai ekonomi masing-masing daerah. Menanggapi hal itu, abang rahmad menganjurkan agar kita tidak terjebak pada isu-isu makro, kita mestinya selalu berlandaskan riset, sehingga indikator capaian perjuangannya jelas.

Diskusi pun ditutup, kami lalu berbicara lepas. Katanya, kita harus menempatkan waktu kita sesuai prioritas, semua bisa diraih tapi harus pelan-pelan. Dan kita harus mengabadikan segala proses yang kita jalani, sebagai media pembelajaran bagi komunitas dan bagi orang banyak kelak.

Terimakasih buat teman-teman yang hadir : djikun, Sasliansyah, Dillah, iqbal Djafar, Pian, Yuyun, Aco, Edi.

Dare to be Wise 

Membangun Peradaban yang Akrab (Mammiri table cangkir I)

Pertemuan awal ini ditaburi dengan kegelisahan, rasa gaduh pada dunia yang stagnan, yang sedang tidak baik-baik saja. pertemuan pada hari Rabu, 20 Juni 2012 itu diisi oleh Kak Asran Salam (29), seorang senior yang drajat kepeduliannya pada peradaban kami anggap cukup tinggi. Kak Asran kami culik di malam hari itu dari toko buku Papirus, untuk mengisi sebuah forum anak-anak muda yang sedang mencari-cari, sedang merasa bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan, yaitu diawali dengan komitmen dan bertukar pikiran.

Ya, kami memulai pertemuan maraton ini dengan berbagi gelisah, gundah pada ruang-ruang yang tak terpantul cahaya makna. Ruang yang kosong dan perlu diisi. Kata kak Asran, ruang-ruang ini akan dikerumi oleh percikan-percikan pikiran, yang tak lain untuk mempercantik pikiran itu sendiri. “untuk bisa berfikir besar, kita harus melirik pikiran-pikiran besar,” ucap Asran. Kata ini menjadi pembuka diskusi mammiri table (meja mammiri) tahap I, dengan peserta : Sasliansyah Arfah, Jikun, Dilla, dan Idham.

Peradaban ini harus dibangun, tentu dengan saling berbagi dan bertukar informasi, fostulat utama yang sempat dirumuskan saat itu adalah kita akan selalu berkumpul jika ada informasi yang dipertukarkan. Kita pun akan tidak merasa sepi dan sunyi, bahwa kita bisa bersama untuk mengatasi kegilaan ini. Kak asran menganggap, bahwa dengan adanya forum-forum seperti ini rasa sedih akan kesendirian bisa ditepis, ternyata masih banyak ada yang peduli. Ternyata kegelisahan ketika dibagi bersama, jika diorganisir dengan baik akan memunculkan sebuah energi perubahan yang dahsyat. Mungkin teman-teman juga berfikir seperti itu.

Waktu itu kita berfikir harus memulai dari mana, apakah harus dari kampus, ataukah dari ruang-ruang publik seperti warkop? Kak asran menganggap bahwa kita harus memulainya dari kampus. Menurutnya, kalau perlu kita membangun mazhab tersendiri di kampus itu. Dan ia pun menawarkan dirinya untuk diperkenalkan dikampus, untuk menularkan semangat perjuangan. Bahwa peradaban harus ditorehkan, lewat budaya menulis, diskusi dan membaca.

Mengamati mahasiswa yang semangatnya melempem, apakah harus dimulai dengan memperkenalkan kondisi ril lapangan? Melihat saat ini mungkin banyak diantara mahasiswa yang tahu teori tapi miskin pengalaman. Mereka mampu merekonstruksi kejadian, tapi tidak tahu strategi dalam pelaksanaan program pengembangan ilmu ketika diperhadapkan dengan masalah. Ini menjadi perbincangan hangat waktu itu. Menurut kak asran, selain pengetahuan lapangan, mereka pun harus diasah dengan teori-teori besar yang mampu mengasah cara berfikir mereka.

Kita pun diperhadapkan pada problem, apakah kita sebagai perintis harus menempuh jalan sunyi yang bernama kemiskinan? Pada wilayah ini kami tak menemukan solusi, sebab tentang hal ini masing-masing kita punya pilihan-pilihan jalan, kami tak menganjurkan agar harus kaya, tapi ketika menjadi kaya harus tetap komitmen bahwa kita akan terus bersama dalam perjuangan. Entah yang disebut perjuangan disini masih berupa banyangan yang demikian abstrak. Muncul ketakutan-ketakutan, bahwa ketika orang sudah mapan, ia akan melupakan komitmen-komitmennya. Nah, tentang hal ini, waktu lah yang menentukan. Perjuangan memang selalu memakan anak kandungnya sendiri.. hehe.. menjadi kaya yang lupa mungkin adalah bentuk krisis kemanusiaan pula.

Rekomendasi yang sempat terumuskan adalah, bagaimana setiap pertemuan ada rekaman prosesnya. Yaitu sebuah atau dua buah tulisan. Agar kelak bisa dijadikan pelajaran dan dapat ditarik hikmahnya darinya.

Akhir pertemuan, terkumpul semangat, berikutnya adalah terus melanjutkan apa yang telah kita rumuskan bersama..

Dare to be wise

Mammiri Table (Meja Mammiri)

Perubahan kadang kala berawal dari sebuah meja. Meja adalah tempat, sekaligus pertemuan. Sebuah perkakas tempat menandaskan lengan, bersandarnya cangkir-cangkir kopi, menetakkan asbak menampung abu rokok. Meja barangkali juga latar, tempat suasana terbentuk, karakter diasah, dan ide-ide ditaburkan.

Pada sebuah meja kita akan mempertanyakan masalah, menajamkan ide, menorehkan unek-unek untuk menggedor kebekuan alam nyata. Meja mempertemukan kita yang berbeda-beda, untuk saling bertukar dan mengisi.

Teman-teman sekalian, meja barangkali sepele, sebuah perkakas yang diam dan dungu. Tapi, ia menandaskan segalanya, baik itu papan catur, handphone, laptop dan juga buku-buku. Meja bisa jadi menyimpan rasa gelisah, sebagaimana kegalauannya terhadap aroma Kopi Mammiri yang melengos. Ia layaknya artepak yang mengembalikan ingatan kita akan sebuah kejadian, peristiwa, suasana, dan mungkin sebuah ide.

Nah, pada tempat ini akan muncul gairah, yang dirangsang oleh hembusan angin semilir, sepoi-sepoi (Mammiri). Hembusan ini seperti ide dan informasi yang mengalir segar, merangsang otak-otak kita untuk terus berfikir, mencipta, dan berbuat. Untuk sesuatu yang kita anggap ideal, sebuah masyarakat yang mandiri, adil, dan juga bebas. Kita mengandaikan sebuah masyarakat yang taat hukum dan penuh empati. Masyarakat yang bahagia dengan kehidupannya, tak adalagi kekerasan, penindasan, dan tak ada saling menghakimi. Orang hidup dalam damai dengan bertaburan informasi dan kebebasan untuk memilih.

Tapi, bagaimana merangcang itu? Bagaimana membangun lembaga-lembaganya, bagaimana memasarkan gagasan-gagasan yang dibangun? Bagiamana kita dapat terlibat intens untuk membuat sebuah perubahan. Entah perubahan seperti apa yang kita maksud, itulah yang menjadi bahan rumusan kita pada pertemuan-pertemuan kelak.

Selayaknya angin sepoi-sepoi, kita membicarakan hal-hal itu ditemani secangkir kopi, dengan abu-abu rokok yang berserakan di guratan meja. Dengan rasa penasaran, tanpa pretensi, tanpa gagah-gagahan.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus yakin, dari kecil tentulah akan menjadi besar jika terus diternak dan ditumbuhkan. Kita bersama pada lingkaran meja sebenarnya hanya ingin saling membesarkan semangat.

Komunitas layaknya sebuah rumah bersama. Yang di dalam rumah itu mungkin terdapat meja. Di situ, kita akan memanggil para tamu dari berbagai kalangan, untuk memberi kobaran semangat dan api ilmu pengetahuan. Mungkin dalam masa-masa ringkas ini yang diperkuat belum tiba di strategi, tapi sekadar api semangat. Mungkin dari meja ini, masing-masing dari kita bisa berpikir mandiri, untuk membuat hal berguna di sekitar kita.

Nah, saya mengundang teman-teman bergabung untuk berbagi cerita..

Sapere Aude “dare to be wise”